bahasa prokem indonesia

20 Okt

Bahasa prokem Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.

Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).

Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T dirubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.

Daftar isi 

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai ‘bahasanya para bajingan atau anak jalanan‘ disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman.

Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan menjadi terasa ‘aneh’ untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal.

Bahasa prokem senantiasa berkembang. Banyak sekali kata-kata yang menjadi kuno atau pun usang disebabkan kecenderungan dan perkembangan zaman.

[sunting] Penggolongan

Tiada penggolongan formal dari bahasa prokem, kecuali barangkali bahasa tersebut termasuk sebagai bagian ataupun cabang dari bahasa Indonesia.

[sunting] Distribusi geografis

Bahasa prokem umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa prokem bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa prokemnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa Sunda.

[sunting] Pemakaian resmi

Bahasa prokem bukanlah bahasa Indonesia resmi meskipun bahasa ini digunakan secara luas dalam percakapan verbal dalam kehidupan sehari-hari.

[sunting] Pengucapan

Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata yang meminjam dari bahasa lain seperti bahasa Inggris ataupun Belanda diterjemahkan pengucapannya, contohnya, ‘Please’ ditulis sebagai Plis, dan ‘Married’ sebagai Merit.

Untuk contoh lainnya, lihat juga (en) SEASite guide to pronunciation of Indonesian.

[sunting] Tatabahasa

Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya. Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa prokem utamanya dalam perbedaharaan kata.

Banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing atau juga menggunakan bahasa prokem.

Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa prokem (informal)
Aku, saya Gue, gua (ditulis pula gw)
Kamu Lu, lo (ditulis pula lw)
Penatlah! Capek deh!
Benarkah? Emangnya bener?
Tidak Enggak
Tidak peduli Emang gue pikirin!

[sunting] Bahasa prokem Tegal

Salah satu daerah yang memiliki bahasa prokem unik adalah Kota Tegal dan sekitarnya. Awal penggunaan bahasa prokem di Tegal adalah sejak perang melawan penjajahan Belanda. Laskar yang bergerilnya menggunakan bahasa sandi yang setelah era kemerdekaan masih tetap dipergunakan sebagai bahasa prokem hingga kini, disamping dialek Tegalan.

Bahasa prokem Tegal tidak menggunakan satu rumusan. Ada sebagian kata yang sekadar mengadopsi dari bahasa Arab seperti harem menjadi kharim (istri), distribusi fonem, seperti bapak/ bapa menjadi jasak, wadon (perempuan) menjadi tarok. Ada pula yang menggunakan variabel nama untuk seseorang yang sering jadi bahan olokan, obyek penderita, seperti Dalban, Waknyad, atau Mardiyah. Lantaran keragaman rumusan itulah mengakibatkan tidak semua orang (pendatang) dapat memahami bahasa gaul Tegal.

Jika mengacu pada contoh di atas, ada kosa kata yang tidak jelas perumusannya, seperti berikut ini:

  • Jakwir berasal dari kata batir (teman), semestinya dilafalkan (ditulis) jawir.
  • Jagin, berasal kata balik (pulang), namun sering diucapkan sebagai jegin

[sunting] Partikel yang sering dipakai

Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang membuatnya terasa lebih “hidup” dan membumi, menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan.

[sunting] Deh/ dah

Deh/ dah asalnya dari kata sudah yang diucapkan singkar menjadi deh/ dah atau udah. Namun dalam konteks berikut, deh/ dah ini sebagai penekanan atas pernyataan.

  • Bagaimana kalau …

Coba dulu deh. (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) – Bagaimana kalau dicoba dahulu?

Besok pagi aja deh. – Bagaimana kalau besok pagi saja?

  • Saya mau …

Lagi deh. – Saya mau lagi.

Yang biru itu deh. – Saya mau yang biru itu saja.

Aku pergi deh. – Saya mau pergi dahulu.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri.

[sunting] Dong

Partikel dong digunakan sebagai penegas yang halus atau kasar pada suatu pernyataan yang akan diperbuat.

  • Tentu saja …

Sudah pasti dong. – Sudah pasti / Tentu saja.

Mau yang itu dong – Tentu saja saya mau yang itu.

  • Kata perintah atau larangan yang sedikit kasar / seruan larangan.

Maju dong! – Tolong maju, Pak/Bu.

Pelan-pelan dong! – Pelan-pelan saja, Kak/Dik.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri.

[sunting] Eh

  • Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua.
    • Eh, namamu siapa? – Bung, namamu siapa?
    • Eh, ke sini sebentar. – Pak/Bu, ke sini sebentar.
    • Ke sini sebentar, eh. – Ke sini sebentar, Bung.
  • Membetulkan perkataan sebelumnya yang salah.
    • Dua ratus, eh, tiga ratus. – Dua ratus, bukan, tiga ratus.
    • Biru, eh, kalau tidak salah hijau. – Biru, bukan, kalau tidak salah hijau.
  • Mengganti topik pembicaraan
    • Eh, kamu tahu tidak … – Omong-omong, kamu tahu tidak …
    • Eh, jangan-jangan … – Hmm… jangan-jangan …
  • Berdiri sendiri: menyatakan keragu-raguan
    • Eh…

Selain ‘eh’ sebagai sebutan untuk orang kedua, partikel ini biasanya tidak dapat dipakai di akhir kalimat lengkap.

[sunting] Kan

  • Kependekan dari ‘bukan’, dipakai untuk meminta pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan).

Bagus kan? – Bagus bukan?

Kan kamu yang bilang? – Bukankah kamu yang bilang demikian?

Dia kan sebenarnya baik. – Dia sebenarnya orang baik, bukan?

  • Jika dirangkai dalam bentuk “kan … sudah …” menyatakan suatu sebab yang pasti (pernyataan).

Kan aku sudah belajar. – Jangan khawatir, aku sudah belajar.

Dia kan sudah sabuk hitam. – Tidakkah kamu tahu bahwa dia sudah (memiliki tingkatan) sabuk hitam.

  • Berdiri sendiri: menyatakan dengan nada kemenangan “Lihatlah, bukankah aku sudah bilang demikian”

Kan…

[sunting] Kok

  • Kata tanya pengganti ‘Kenapa (kamu)’

Kok kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat?

Kok diam saja? – Kenapa kamu diam saja?

Kok dia mukanya masam? – Kenapa dia mukanya masam?

Kok aku tidak percaya kamu? – Kenapa aku tidak dapat mempercayaimu?

  • Memberi penekanan atas kebenaran pernyataan yang dibuat.

Saya dari tadi di sini kok. – Saya mengatakan dengan jujur bahwa dari tadi saya ada di sini.

Dia tidak mencurinya kok. – Saya yakin bahwa dia tidak mencurinya.

  • Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata

Kok???

[sunting] Lho/Loh

  • Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi.

Lho, kok kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran)

Loh, apa-apaan ini! – Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah)

Lho, aku kan belum tahu? – Aku sebenarnya belum tahu. (dengan ekspresi tidak bersalah)

Loh, kenapa dia di sini? – Kenapa dia ada di sini? (dengan ekspresi terkejut)

  • Kata informatif, untuk memastikan / menekankan suatu hal.

Begitu lho caranya. – Begitulah caranya.

Nanti kamu kedinginan loh. – Nanti kamu akan kedinginan (kalau tidak menggunakan jaket, misalnya).

Aku mau ikut lho. – Aku mau ikut, tahu tidak?.

Ingat loh kalau besok libur. – Tolong diingat-ingat kalau besok libur.

Jangan bermain api lho, nanti terbakar. – Ingat, jangan bermain api atau nanti akan terbakar.

  • Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata

Lho???

[sunting] Nih/ ni

  • Kependekan dari ‘ini’.

Nih balon yang kamu minta. – Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu minta.

Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. – Ini tugasmu sudah saya selesaikan.

(I)ni orang benar-benar tidak bisa dinasehati – Orang ini benar-benar tidak bisa dinasehati

  • Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan diri sendiri).

Cape, nih. – Saya sudah lelah. (dengan ekspresi lelah)

Saya sibuk, nih. – Saya baru sibuk, maaf. (dengan ekspresi menolak tawaran secara halus)

Sudah siang, nih. – Sekarang sudah siang. Ayo lekas …

  • Untuk memberi penekanan pada subjek orang pertama

Saya nih yang tahu jawabannya. –  Hanya saya yang tahu jawabannya.

Aku nih sebenarnya anak konglomerat. – Aku ini sebenarnya anak konglomerat.

  • Berdiri sendiri: memberikan/menyerahkan sesuatu kepada orang lain

Nih.

Lihat partikel “tuh/ tu”.

[sunting] Sih

  • Karena …

Dia serakah sih. – Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh)

Kamu sih datangnya terlambat. – Karena kamu datang terlambat. (dengan ekspresi menyesal)

  • Digunakan tepat setelah sebuah kata tanya yang artinya kurang lebih “Sebenarnya …”

Tadi dia bilang apa sih? – Sebenarnya apa yang dia katakan tadi?

Berapa sih harganya? –  Sebenarnya berapa harganya?

Apa sih yang dia mau? – Sebenarnya apa yang dia mau? (dengan ekspresi jengkel)

Maumu kapan sih? – Sebenarnya kapan yang kamu mau?

  • Membedakan seseorang dari sekumpulan orang.

Tetanggaku semuanya miskin, tapi orang itu sih kaya. – Orang itu lebih kaya daripada yang lain.

Aku sih tidak akan terjebak, kan aku sudah belajar banyak. – (Yang lain boleh terjebak,) Saya pasti tidak akan terjebak, sebab saya sudah belajar banyak.

  • Kata yang mengakhiri satu pernyataan sebelum memulai pernyataan yang bertentangan.

Mau sih, tapi ada syaratnya. – Saya mau tetapi ada syaratnya.

Saya bisa sih, cuma ada beberapa yang ragu-ragu. – Saya bisa tetapi ada beberapa yang saya masih ragu-ragu.

Itu saya sih, tapi saya tidak bermaksud melukainya. – Itu sebenarnya saya, tetapi saya tidak bermaksud melukainya.

Kalau aku sih tenang-tenang saja. – Kalau saya sekarang ini tenang-tenang saja.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri

[sunting] Tuh/ tu

  • Kependekan dari ‘itu’, menunjuk kepada suatu objek

Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. – Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu.

Tuh orang yang tadi menolongku. – Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.

  • Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan orang lain).

Kelihatannya dia sudah sembuh, tuh. – Lihat, nampaknya dia sudah sembuh.

Tuh, kamu lupa lagi kan? – Lihat, kamu lupa lagi bukan?

Ada yang mau, tuh. – Lihat, ada yang mau (barang tersebut).

  • Untuk memberi penekanan pada subjek orang kedua atau ketiga.

Dia tuh orangnya tidak tahu diuntung. – Dia sebenarnya orang yang tidak tahu berterima kasih.

Pendapat saya:

Mengapa bahasa prokem kebanyakan dari kalangan anak betawi karena bahasa Indonesia banyak digunakan oleh remaja betawi dan bahasa  tersebut menyatu dengan bahasa betawi mereka, tetapi d lain daerah bahasa Indonesia mengalami banyak perubahan penyerapan dari baha orang2 indonesi seperti orang jawa, betawi, sunda dan sebagainya makanya bahasa prokel/ gaul tidak masalah digunakan dalam bahasa sehari2 dihalangan remaja, di daerah tertentu karena bahasa Indonesia kurang di pahami makanya bahasa Indonesia bergabung dengan bahasa daerah seperti di jawa  d tegal, dan pemalang memiliki bahasa prokem yang unik, tapin memasang dari asalnya bahasa Indonesia adalah kesatuan dari bahasa daerah2 yang ada di Indonesia dan juga dari bahasa belanda yang telah di sempurnakan, kebanyakan bahasa prokem di daerah2 spt di tegal dan pemalang karena penguapan yang tidak tepat bahasa Indonesia bahasanya berubah tetapi masih terus d gunakan untuk bahasa sehari2 dan sering di sebut bahasa prokem tetapi di biarkan karena sudah menjadi bahasa sehari2 mereka, makanya bila ada mahasiswa daerah yang dari jawa kuliyah di Jakarta walaupun sama2 menggunakan bahasa Indonesia tetapi ada kata yang berbeda kare bawaan dari bahassa daerah mereka . makanya walaupun sama2 mengunakan bahasa indonesia ada kata2 yang tidak sama tetapi maksudnya sama.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: